Untuk penyebab tawa dan tangisku,
Ku mengingat kembali semua
kenangan-kenangan itu, yah kenangan yang menurutku terlalu indah tuk dilupakan
dan terlalu sakit tuk dikenang. Lalu, kupandangi lagi foto-fotomu yang masih ku
simpan di laptopku maupun di handphoneku. Ku ingat lagi dulu kamu yang
memberikan tawa di hidupku dan Ku ingat lagi sosokmu yang telah hancurkan aku.
Sudah berapa bulan kiranya saat
peristiwa itu terjadi, peristiwa saat kamu memutuskan untuk tidak bersamaku
lagi dan memilih jalan sendiri. Bukan karena pertengkaran hebat seperti
layaknya sepasang kekasih yang mengakhiri dengan pertengkaran, tapi karena
mungkin cinta yang ternyata diam-diam berkhianat atau mungkin saja karna
sepihak merasa jenuh. Entahlah akupun tak memahami semuanya, dialah yang
memutuskanku tanpa alasan yang jelas seperti seorang tawanan yang dituduh tanpa
ada alasan yang logis. Ataukah mungkin karena pihak ketiga? Yang selalu
menghantui pikiranmu sehingga kamu merasa jenuh kepadaku, meskipun kalah itu
dia tahu bahwa aku saat itu masih bersama mengandeng masa depan denganmu.
Mungkin saja sederetan pesan
singkat yang mengisi inbox handphonenya, terselip pesan singkat dari wanita
yang menyukaimu. Dan ketika semua telah terjadi, tahukah kamu bagaimana
perasaanku saat itu? Rasanya seperti aku dipermainkan layaknya boneka barbie,
dan saat itu aku masih saja tetap bertahan dengan rasa ini. Entahlah apa itu
semua benar adanya? Dan tak lama setelah peristiwa itu aku mendengar kabar,
kabar yang membuatku merasa down sangat sangat down. Yah, kabar itu ternyata
kau telah menggandeng wanita lain yang ternyata dialah orang ketiganya? Tahukah
kamu bagaimana perasaanku saat mendengar kabar itu? Rasanya seperti tak
percaya, secepat itukah kamu melupakan kenangan yang dulu pernah kita jalani
bersama, secepat itukah kau mencari penggantiku? Dan melupakanku?
Air matapun tak dapat habis dan
terurai, sunyiku rasa dalam hidupku tak mampu membuatku tuk melangkah. Masih ku
ingat indah senyummu yang selalu mampu membuatku mengenangmu. Kamu.....
tetaplah pria baik yang sama seperti pertama kali kukenal. Walau saat itu kau
telah menghancurkan semuanya, mengancurkan mimpi indah kita yang baru kita
bangun. Engkau masih yang terindah, indah didalam hatiku mengapa kini sakit tak
berarti yang seperti ini? Apa salahku kau buat begini? Menangispun ku tak mampu, hanya sisa kenangan terindah dan kesedihanku.
Kau tahu? Sebenarnya aku masih mencintaimu, masih mengharapkan kau tuk
kembali kepelukanku. Perasaan yang sakit tapi tetap kokoh untuk bertahan.
Mungkin karna aku terlalu cinta? Kita seperti dipermainkan oleh takdir, dan aku
belum membaca aturan permainannya. Aku tidak pernah berbohong untuk berkata
bahwa aku merindukanmu. Aku tidak menggunakan topeng atau cadar untuk berkata
bahwa aku sejujurnya masih mencintaimu.
Aku mencintaimu, setulus dan sesederhana itu.
Dan seharusnya kamu mengetahui
ketulusan hati ini. Menangispun sudah tidak ada gunanya lagi, walau sekeras
apapun perjuanganku, masih saja tidak bisa membuatmu menatap kebelakang yang
ada aku selalu tulus mencintaimu apa adanya.